Munculnya Gubernur Hasil Politisasi Ayat Mayat di Survei Capres dan Manuver Busuk Ubedillah Badrun

Janji kampanye Anies Baswedan pada Pilkada Jakarta tahun 2017, banyak yang tak dipenuhi. Selain itu, penggunaan anggaran DKI Jakarta banyak kejanggalan. Ada kelebihan bayar dalam pembelian masker N95 sebesar Rp 5,8 miliar, pembelian lem aibon, dan masih banyak kasus kelebihan bayar lainnya. Bahkan, program rumah DP 0 rupiah, malah jadi ajang korupsi. Ada juga laporan kasus korupsi Formula E ke KPK. Meski begitu, nama Anies Baswedan tetap masuk dalam survei Capres tahun 2024. Hal ini tentu aneh sekali. Namun bila ditelusuri lebih dalam, basis dukungan terhadap Anies saat ini, ternyata tak jauh beda dengan Pilkada DKI Jakarta tahun 2017 lalu.

Tidak bisa dibantah, bahwa kemenangan Anies pada Pilkada Jakarta karena didorong oleh gencarnya politisasi agama yang didukung kaum intoleran, seperti HTI dan FPI. Ada juga Farid Okbah dan Zein An-Najah yang kini jadi tersangka kasus terorisme. Mereka agresif melakukan kampanye rasis yang sadis. Bahkan, ada yang terang-terangan mengancam akan membunuh Ahok.

Jika ingin tau basis dukungan Anies Baswedan saat ini, bisa ditelusuri di media sosial. Kaum intoleran pendukung Anies pada Pilkada 2017 lalu, kini sangat agresif melakukan kampanye. Mereka menebar narasi untuk mengaburkan fakta dan realitas terkait kejanggalan kebijakan Anies Baswedan yang berbau busuk. Narasi bombastis kerap disebar agar Anies tetap mendapat simpati dari publik.

Yang memprihatinkan, para akademisi ternyata juga ada yang mendukung gerakan kaum intoleran. Contohnya, Rektor Unversitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta Al-Makin. Rektor perguruan tinggi negeri ini, terang-terangan membela aktor intoleran penendang sesajen di Lumajang agar dibebaskan dari tuntutan hukum.

Sikap aneh Rektor UIN Sunan Kalijaga itu, muncul bersamaan dengan manuver Dosen Universitas Negeri Jakarta Ubedillah Badrun yang melaporkan anak presiden Jokowi ke KPK. Yang menyedihkan, dalam laporannya Ubedillah tidak bisa menunjukkan fakta-fakta pelanggaran hukum, tapi hanya berdasar asumsi subyektif dan teori akademik.

Manuver Ubedillah itu sudah bisa ditebak. Laporannya ke KPK hanya jadi triger untuk mendukung pencitraan PKS menjelang pemilu tahun 2024. Sebab, sejak tahun 2014 Ubedillah memang banyak dimanfaatkan PKS untuk penggalangan opini publik. Selain itu, manuver Ubedillah itu juga dimanfaatkan untuk mendukung Anies Baswedan. Faktanya, Ubedillah malah memuji Anies ketika borok gubernur DKI terbongkar.

Pendek kata, aktifnya kaum intoleran berkampanye untuk Anies di media sosial dan munculnya akademisi pedukung PKS yang agresif berpolitik, punya benang merah dengan dinamika politik nasional hari ini, terutama terkait pencitraan menjelang Pilpres 2024. Karena itu, publik harus berhati-hati oleh agitasi bohong hasil rekayasa kaum intoleran.

Post a Comment

Previous Post Next Post