Sejarah Kereta Api Cepat Indonesia di Era Kolonial Belanda

 Kereta api ekspres pertama di Indonesia pernah tercatat sebagai kereta api tercepat di Asia. Rekor ini dicatat ketika perusahaan kereta api era kolonial Belanda Staatspoorwegen mulai mengoperasikan kereta api Eendagsche Express jurusan Jakarta-Surabaya pada 1 November 1929. Kecepatan kereta api ini mencapai 100 km per jam dan mampu menempuh jarak Jakarta-Surabaya dalam 11 jam.


Pada tahun 1894, Staatspoorwegen sebenarnya sudah mengoperasikan kereta api jurusan Batavia-Surabaya. Namun kereta api ini perlu waktu tiga hari atau sekitar 29 jam hingga 32,5 jam untuk menempuh jarak Jakarta-Surabaya. Kala itu, kereta api Batavia-Surabaya ini harus melewati jalur selatan, dari Batavia ke Bandung, lalu ke Tasikmalaya, kemudian ke Jogja dan baru ke Surabaya.


Menurut catatan Sejarawan Achmad Sunjayadi, perjalanan kereta api jarak jauh di Pulau Jawa mulai marak setelah jaringan rel kereta api dari Batavia hingga ke Surabaya tersambung dengan selesainya jalur rel Maos-Cilacap pada 1 November 1894. Namun perjalanan Batavia-Surabaya saat itu masih memakan waktu tiga hari. 


Pada masa itu, penumpang  kereta api jurusan Batavia-Surabaya harus berpindah rangkaian kereta karena ada perbedaan operator kereta api dan perbedaan ukuran bentang rel. Perjalanan dari Batavia dengan kereta api milik Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij ditempuh hanya sampai Buitenzorg yang kini jadi Stasiun Bogor. Jika ingin lanjut, penumpang harus pindah ke rangkaian kereta milik Staatsspoorwegen.


Pada awalnya, perjalanan kereta api jurusan Batavia-Surabaya harus menempuh jalur Batavia-Buitenzorg-Sukabumi-Cianjur-Bandung hingga ke aTasikmalaya. Karena kereta api tidak beroperasi malam hari, penumpang harus turun dan menginap di kota Tasikmalaya. Di daerah ini, aktor Charlie Chaplin dua kali singgah berwisata dengan kereta api yang berhenti di Stasiun Cibatu, Garut, pada 1932. 


Setelah menginap di Tasikmalaya, perjalanan diteruskan ke Yogyakarta dan penumpang harus kembali menginap di Yogyakarta . Pada hari ketiga, perjalanan dilanjutkan dengan kereta milik Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij hingga kota Surakarta. Di Surakarta ini, penumpang harus berganti lagi ke kereta api milik Staatsspoorwegen untuk meneruskan perjalanan ke Surabaya. 


Pada 1896, perjalanan kereta api jurusan Batavia-Surabaya menjadi lebih cepat jadi dua hari karena jalur kereta api dari Karawang-Cikampek-Padalarang hingga keBandung sudah disambungkan. Namun penumpang kereta api jurusan Batavia-Surabaya harus menginap di Maos. Kota ini menjadi titik tengah karena kereta api dari Batavia dan kereta api dari Surabaya tiba menjelang petang di Maos.


Dibukanya jalur baru dari Cirebon-Prupuk-Purwokerto hingga ke Kroya pada 1 Januari 1917, membuat waktu tempuh kereta api jurusan Batavia-Surabaya dapat dipersingkat menjadi 17 jam. Sebab, kereta api dari dan ke Batavia tidak perlu lagi melintasi jalur Parahyangan sampai Bandung yang medannya berat. Dari Batavia kereta api bisa langsung ke Surabaya melalui Cirebon-Purwokerto-Kroya & Yogyakarta.


Kemudian, pada 1 November 1929 Staatspoorwegen mulai mengoperasikan kereta api Eendagsche Express jurusan Jakarta-Surabaya yang ditarik dengan lokomotif uap baru yang lebih cepat dan bertenaga, yakni Lokomotif SS1020(C5320) buatan Werkspoor-Amsterdam. Dengan lokomotif baru ini, kereta api Eendagsche Express bisa menempuh jarak Jakarta-Surabaya sekitar 940 kilometer selama 11 jam 27 menit.


Menurut catatan Eliza Scidmore dalam buku Java The Garden of The East, kereta api jurusan Jakarta-Surabaya kala itu berangkat dari Stasiun Weltevreden yang kini jadi Stasiun Gambir. Para penumpangnya kebanyakan para pengusaha dan pejabat Eropa. Rangkaian kereta terbagi dalam kelas I, kelas II, dan kelas III. Rangkaian kereta kelas I dan kelas II memiliki fasilitas lebih nyaman. 


Sementara rangakaian kereta kelas III dikenal dengan kereta kelas kambing yang biasa ditempati penumpang Bumiputera. Kondisinya berjejalan, memiliki jendela memanjang, dan kursi kayu berderet tanpa sandaran punggung. Menurut Eliza Scidmore, ongkos perjalanan kereta api kelas I dari Batavia ke Surabaya kala itu mencapai 50 gulden atau 20 dollar Amerika Serikat untuk perjalanan sejauh 940 kilometer.


Harriet W Ponder dalam buku Javanese Panorama memaparkan, keberadaan kereta api Eendaghsche Express jurusan Batavia-Surabaya menarik perhatian masyarakat yang ingin bepergian dari barat ke timur Pulau Jawa dan sebaliknya. Nama kereta Eendaaghsche Express dan Nacht Express jadi label untuk menawarkan perjalanan cepat dengan kereta pagi atau kereta malam dari Batavia ke Surabaya & sebaliknya.


Perjalanan kereta ekspres malam hari merupakan terobosan karena pada zaman sebelumnya para pegawai kereta di Jawa tidak mau bekerja saat malam hari karena masih ada kepercayaan akan adanya arwah gentayangan dan makhluk halus yang mengganggu. Beroperasinya kereta ekspres pada pagi dan malam hari kemudian dipromosikan besar-besaran oleh maskapai Staatsspoorwegen sebagai perjalanan yang menyenangkan.



Post a Comment

Previous Post Next Post