Mandikan Jenazah Protokol Covid-19, 4 Petugas RS Jadi Tersangka: Tengku Zulkarnain Diduga Jadi Provokator

Empat petugas forensik di RSUD Djasemen Saragih Kota Pematangsiantar ditetapkan sebagai tersangka kasus penistaan agama setelah memandikan jenazah pasien perempuan sesuai protokol Covid-19. Di balik kasus ini, ada Tengku Zulkarnain yang ikut memprovokasi tanpa paham soal protokol Covid-19.


Gara-garanya mereka memandikan jenazah Zakiah (50) seorang pasien wanita suspek Covid-19, empat petugas forensik di RSUD Djasemen Saragih Kota Pematangsiantar kini terancam masuk penjara. Empat pria petugas forensik tersebut adalah DAAY, ESPS, RS, dan REP. Dua di antara mereka berstatus sebagai perawat. Mereka ditetapkan sebagai tahanan kota sejak Kamis (18/2/2021) hingga 20 hari ke depan.
 

Polisi tidak melakukan penahanan karena tenaga empat pria tersebut dibutuhkan di di ruang instalasi jenazah forensik. Kasi Pidum Kejari Siantar, M Chadafi mengatakan para tersangka adalah tenaga khusus untuk menangani jenazah di masa pandemi Covid-19.


"Kita khawatir kalau dilakukan penahanan di rumah tahanan akan mengganggu proses berjalannya kegiatan forensik. Di antara memandikan jenazah dan sebagainya. Kita gak mau gara-gara ini kegiatan itu terhenti apalagi sekarang kondisi pandemi," kata Chadafi di kantor Kejari Pematangsiantar.
 

Sementara itu pengurus puluhan anggota Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) turut hadir mendampingi para tersangka sebagai bentuk solidaritas. PPNI juga memberikan pendampingan hukum kepada para tersangka selama proses hukum berjalan. "Kami sebagai kuasa hukum PPNI siap memberikan bantuan hukum hingga proses persidangan," kata Pengacara dari Badan Bantuan Hukum PPNI, Muhammad Siban.

 

Empat petugas tersebut ditetapkan sebagai tersangka atas laporan Fauzi Munthe, warga Serbelawan, Kecamatan Dolok Batu Nanggar, Kabupaten Simalungun. Laporan dilakukan karena Fauzi tak terima saat jenazah istrinya, Zakiah (50) dimandikan oleh 4 pria petugas forensik.



 Para petugas forensik tersebut dianggap melakukan penistaan agama karena memandikan jenazah wanita yang bukan muhrim. Prosedur penanganan jenazah Zakiah dianggap tak sesuai dengan syariat Islam fardu kifayah. Yakni jenazah wanita dimandikan pria yang bukan muhrim di ruang instalasi jenazah forensik RSUD Djasemen Saragih.


Sementara itu Kasat Reskrim Polres Pematangsiantar AKP Edi Sukamto mengatakan saat penyelidikan, polisi meminta keterangan pengurus MUI Pematangsiantar, Direktur RSUD Djasamen Saragih, dan mendatangkan saksi ahli.


“Itu keterangan saksi ahli dan keterangan MUI yang kita pegang. Sudah kita panggil MUI, bahwasanya MUI menerangkan perbuatan mengenai penistaan agama,” kata Sukamto saat dihubungi lewat sambungan telepon, Jumat (19/2/2021).

 
AKP Edi Sukamto menjelaskan kasus tersebut telah diserahkan ke Kejaksaan Negeri Siantar setelah berkas dinyatakan lengkap oleh jaksa. Kasus tersebut akan dilimpahkan ke pengadilan untuk disidangkan. “Kita hanya mengajukan, jadi itu semua petunjuk jaksa. Ya sudah kita sampaikan,” ucapnya.



Sementara itu Ketua DPW PPNI Sumut, Mahsur Al Hazkiyani mengimbau perawat di Kota Pematangsiantar tetap bekerja profesional untuk membaktikan diri tanpa membeda bedakan suku agama, golongan dan jenis kelamin.

 

Mahsur Al Hazkiyani menyebut ada 1817 perawat di Kota Pematangsiantar dan 750 orang di Kabupaten Simalungun. “Kami minta perawatan untuk tetap tenang jangan terprovokasi, tetap bekerja profesional dan tetap menjaga kerukunan umat beragama,” pungkasnya.

 

Di balik kasus ini, belakangan terungkap ada Tengku Zulkarnain yang ikut memprovokasi tanpa paham soal protokol Covid-19. Provokasi ini dilakukan Tengku Zulkarnain melalui video yang diedarkan di media sosial.

 

 BACA JUGA: NETIZEN GALANG PETISI: TUNTUT  4 NAKES DIBEBASKAN

 

Post a Comment

Previous Post Next Post