Jaksa Hentikan Kasus Penodaan Agama 4 Nakes Terkait Memandikan Jenazah Wanita

 Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Pematangsiantar akhirnya menghentikan penuntutan terhadap empat tenaga kesehatan (nakes) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Djasamen Saragih Pematangsiantar, yang dituduh melakukan penodaan agama karena memandikan jenazah wanita dengan protokol Covid-19. Hal ini diungkap oleh Kajari Pematangsiantar Agust Wijono dalam jumpa pers di Kejari Pematangsiantar, Rabu (24/2/2021) sore.

 

Menurut Agust Wijono, dari pemeriksaan berkas perkara tidak cukup bukti bahwa ke empat tersangka yakni DAAY, ESPS, RS, dan REP bisa didakwa kasus penistaan agama karena mereka adalah petugas medis fornsik khusus menangani covid-19. Kemudian dua di antara mereka petugas forensik dan dua lagi perawat.

 

Sebelumnya empat pria tenaga kesehatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Djasamen Saragih Pematangsiantar, Sumut, ditetapkan sebagai tersangka. Keempatnya dijerat kasus penistaan agama usai memandikan jenazah wanita di ruang forensik di rumah sakit milik pemerintah daerah itu pada 20 September 2020. Mereka dijerat Pasal 156 Huruf a Juncto Pasal 55 Ayat 1 tentang Penistaan Agama dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara.

 

Kapolres Pematangsiantar AKBP Boy Siregar mengatakan pihaknya telah menyerahkan kasus tersebut kepada Kejaksaan Negeri usai berkas perkara dinyatakan lengkap. Jadi mereka masih bekerja saat ini dan menjalani tahanan kota.

 

Dalam kasus ini, Tengku Zulkarnain diduga ikut melakukan provokasi melalui video yang disebarkan di media sosial. Menurut Tengku Zulkarnain, kasus memandikan jenazah merupakan penodaan agama. Tapi faktanya, tuduhan Tengku Zulkarnain tidak ada buktinya hingga jaksa mengentikan penyidikan kasus ini.

 



Post a Comment

Previous Post Next Post