Jangan Terkecoh Drama Harga Minyak Dunia, Indonesia Sudah Punya BBM dari Sawit

Peryataan mantan Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar, dalam Bincang Ramadhan bertema "Memahami Geopolitik Pasar Minyak Dunia" yang digelar Salman ITB lalu, sangat benar bahwa  ketergantungan Indonesia terhadap minyak bumi (fosil) harus dikurangi dan diganti dengan energi alternatif. Sebab, bila selalu bergantung minyak bumi (fosil) saja Indonesia akan selalu menjadi importir minyak mentah.

Padahal, di balik naik-turunnya harga minyak dunia ada banyak "drama poltik" yang diperankan oleh negara-negara produsen minyak. Bila hanya pasrah dan percaya pada "drama poltik" perang harga minyak, Indonesia bisa terkecoh dan jadi korban para aktor yang hendak memainkan ekonomi global. Karena itu, anggaran negara Indonesia lebih baik dikonsentrasikan menggali potensi sumber energi dalam negeri, salah satunya mengolah kelapa sawit menadi bahan bakar minyak (BBM).

Presiden Jokowi sejak lama sudah mendorong Pertamina agar mengolah kelapa sawit menjadi BBM biodiesel. Hasilnya, Pertamina mampu mewujudkan proses pengolahan minyak sawit atau crude palm oil (CPO) menjadi BBM biodiesel B30 di Kilang Plaju, Kota Palembang.

Menurut Presiden Jokowi, dari proses pengolahan minyak sawit menjadi biodiesel B30 ini mampu menghemat anggaran 110 triliun. Bila proses pengolahan minyak sawit bisa ditingkatkan lagi menjadi biodiesel B100, maka Indonesia tidak akan mengimpor BBM lagi. Sebaliknya, Jokowi berharap Indonesia tidak perlu mengekspor crude palm oil (CPO) karena adanya permainan di Uni Eropa.

Menurut Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati, program biodiesel perlu mendapat dukungan lantaran mampu mengurangi impor solar. Sejak Maret 2019, Pertamina tak lagi mengimpor solar. Perusahaan mencatat volume impor turun dari 15,2 juta barel di 2018 menjadi 820 ribu barel di 2019. Ongkos imoor yang tahun lalu mencapai US$ 1,4 miliar turun menjadi US$ 54 juta. 

Yang menarik, Kementerian Pertanian diam-diam kini sudah melakukan uji coba menggunakan BBM biodiesel B100 pada puluhan kendaraan dinas. Hasilnya, menurut pengakuan sopir Kementerian Pertanian, menggunakan BBM biodiesel B100 tidak pernah menemukan masalah dan terbukti lebih irit. Hanya saja, BBM biodiesel B100 ini belum diproduksi massal untuk dipasarkan. Sehingga baru B30 yang dipasarkan.

Berikut hasil pengolahan CPO menjadi BBM biodiesel:


Previous Post Next Post