Heboh masuknya Enzo Allie sebagai taruna Akmil TNI cukup membuat kaget warga negara Indonesia. Itu bisa dimaklumi karena Enzo Allie dan ibunya Hadiati Bajuni Allie dinilai rajin berkampanye mendukung Hizbut Tahrir di media sosial. Padahal, bila menelusur jejak sejarah Hizbut Tahrir di berbegai negara, menyusup ke lembaga militer adalah bagian strategi untuk merebut kekuasaan atau kudeta.

Pertanyaan yamg muncul kemudian adalah: mungkinkah Hizbut Tahrir sengaja menyusupkan Enzo Allie ke dalam lembaga militer TNI untuk melakukan kudeta demi mewujudkan mimpi negara khilafah? Untuk mencri jawabnya, mari kita telusur jejak sejarah Hizbut Tahrir saat menyusupi lembaga militer di berbegai negara. Yang pasti,  jejak digital Enzo Allie dan ibunya, Hadiati Bajuni Allie, di media sosial bikin para netizen Indonesia ketar-ketir.

Seperti ini contohnya




Jejak Sejarah Gerakan Hizbut Tahrir
Sejak didirikan oleh Asy-Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani pada tahun 1953 di Palestina, Hizbut Tahrir kini telah menjadi gerakan global yang tersebar tak hanya di negara Islam dan jazirah Arab. Dengan kekhilafahan yang diperjuangkan, Hizbut Tahrir bergerak melintasi batas negara, menjalar ke seluruh dunia.

Periode 1960-1980 menjadi masa penyebaran Hizbut Tahrir di berbagai negara. Mesir, Kuwait, Suriah, Irak, hingga kawasan Asia Tengah menjadi cabang baru Hizbut Tahrir. Persebaran ideologi Hizbut Tahrir ditopang oleh mahasiswa-mahasiswa rantau asal Yordania dan Palestina yang belajar di Timur Tengah dan Asia Tengah. Di Lebanon, mahasiswa kader Hizbut Tahrir menyebarkan ajaran kepada mahasiswa Muslim lainnya di kampus-kampus di Beirut.

Alhasil, Hizbut Tahrir mendapat tempat di hati masyarakat yang mengalami kemandekan tentang konsep perjuangan hidup di bawah Islam. Hizbut Tahrir menawarkan harapan lewat kemasyuran Daulah Khilafah yang kelak akan menerangi umat. Lewat gerakan bawah tanah, Hizbut Tahrir berhasil menduduki kantong-kantong massa.

Setelah kematian Nabhani, Sheikh Khaled Zaloum melanjutkan kepemimpinan Hizbut Tahrir. Dalam catatan jurnal The Transnational Network of Hizbut Tahrir Indonesia yang ditulis oleh Mohamed Nawab Mohamed Osman, Hizbut Tahrir kala itu disebut mulai merambah negara-negara Barat seperti Eropa dan Amerika Serikat.

Ini Strategi Hizbut Tahrir: Menyusupi Lembaga Militer untuk Kudeta
Upaya Hizbut Tahrir menegakkan khilafah berbenturan dengan konsep negara-bangsa era modern, termasuk bertentangan dengan nasionalisme Arab. Akibatnya, mimpi kekhilafahan yang diusung Hizbut Tahrir lmendapat perlawanan bersama dari negara-negara di dunia.

Selama berkampanye, Hizbut Tahrir mengaku ingin mewujudkan khilafah tanpa kekerasan seperti yang diungkap Fethi Mansouri dan Shahram Akbarzadeh dalam bukunya, Political Islam and Human Security. Untuk itu ia menggalang kekuatan dengan mencoba menyusup ke pemerintahan berbagai negara.

Meski mengaku ingin mewujudkan khilafah tanpa kekerasan, Hizbut Tahrir tetap menghalalkan kekerasan saat hendak merebut kekuasaan (kudeta). Di Turki misalnya, Hizbut Tahrir membuat surat terbuka kepada jenderal militer, mengajaknya bergabung dengan mereka untuk membentuk khilafah. Kenekatan ini berujung pada pelarangan Hizbut Tahrir oleh pemerintah Turki.

Upaya penyusupan yang disusul kudeta setidaknya telah dilakukan Hizbut Tahrir di beberapa negara. Seperti yang terjadi di Irak dan Suriah selama tahun 1962-1963, Hizbut Tahrir berusaha menyusup ke dalam badan militer.

Saat itu, Hizbut Tahrir berusaha menyusup ke kelompok-kelompok militer Suriah dan Irak seiring guncangan politik akibat konflik dengan Israel. Namun kudeta tersebut gagal dan berujung pemidanaan beberapa tokoh Hizbut Tahrir di kedua negara.

Upaya penyusupan ke tubuh militer tak berhenti di situ. Percobaan kudeta lewat angkatan bersenjata berlanjut saat Perang Arab-Israel kembalu meletus tahun 1967. Dengan memanfaatkan momen pertempuran, Hizbut Tahrir terindikasi menyusup ke militer yang terlibat perang, yakni Yordania (pada 1968,1969, dan 1971), Irak (1969 dan 1972), srta Mesir (1969 dan 1979).

Catatan percobaan kudeta yang lain terjadi di Yordania pada 1969. Rencana yang dibuat oleh kader-kader Hizbut Tahrir itu ditata lebih rapi. Mereka banyak melakukan kontak dengan pejabat militer Yordania. Kedekatan mereka tercium, lantas membuat beberapa tokoh politik dipenjara karena dianggap subversif.

Keadaan serupa juga terjadi di Irak (1972) dan Suriah (1976). Konsolidasi untuk menggantikan tata kelola pemerintahan dari Pan Arabisme menuju Daulah Khilafah tersalur lewat konsolidasi kader dengan anggota militer.

Kudeta selanjutnya terjadi di Mesir tahun 1974. Kader Hizbut Tahrir Mesir, Sallih Sirriya, mengorganisir 100 orang untuk melakukan kudeta. Tragedi itu berujung pada insiden berdarah di tengah panasnya politik Mesir menghadapi permusuhan dengan Israel. Hingga akhirnya Presiden Mesir Anwar Sadat ditembak oleh organisasi radikal Tanzim al-Jihad pada tahun 1981.

Cara ini --penyusupan dan kudeta-- masih terus dipakai Hizbut Tahrir. Mei 2011, Pakistan digegerkan oleh rencana seorang prajurit, Brigadir Khan, yang telah siap dengan pasukannya untuk menggulingkan pemerintahan sah di Pakistan kapanpun dia mau. Militer Pakistan langsung memberangus Khan beserta Hizbut Tahrir.

Hizbut Tahrir Juga Menysupi Partai Politik 
Seluruh rencana kudeta di Pakistan itu gagal total. Namun Hizbut Tahrir mendapat pelajaran berharga: merebut kekuasaan harus lebih dahulu mendapat dukungan dari kelompok sosial.
Hingga kini, Hizbut Tahrir tetap pada jalan mengkonsolidasi massa tanpa mendirikan organ-organ paramiliter. Mereka berupaya konsisten pada metode politik dan meninggalkan metode revolusi militer.

Tanpa cara militer itu, ada tiga tahap strategi yang mesti ditempuh Hizbut Tahrir: membuat partai dan melakukan pengakderan, interaksi luas dengan umat, dan meraup dukungan dari mereka serta pemimpin politik dan militer agar dapat mengganti konstitusi sekuler dengan sistem Islam.

Daftar Bacaan:
Deretan Upaya Kudeta oleh Hizbut Tahrir
https://kumparan.com/@kumparannews/deretan-upaya-kudeta-oleh-hizbut-tahrir
Previous Post Next Post