Melacak Gerakan Radikal Islam dari Wahabisme ke Global Salafisme (4): Jihad Salafisme

Pada bagia ke-3 "Melacak Gerakan Radikal Islam dari Wahabisme ke Global Salafisme" telah membahas Doktrin Salafi dan Politik. Pada bagian ke-4 ini, akan membahas soal Jihad Salafisme. Berikut kutipan makalah Rofhani - Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel, Surabaya yang dipublikasikan dalam Religió: Jurnal Studi Agama-agama Volume 5, Nomor 2, September 2015.

Istilah jihad-Salafisme ini telah berkembang dan popular dalam beberapa tahun terakhir, tetapi asal usul yang tepat tidak jelas. Hagghammer memaparkan bahwa istilah jihad-Salafisme pertama kali digunakan oleh New York Times pada tahun 2005, dan sebelumnya telah digunakan oleh al-Sharq al-Awsat} pada tahun 1999. Terminologi ini didasarkan pada istilah yang digunakan oleh Abu Muhammad al-Maqdisi pada awal tahun 1990. Secara tertulis gerakan Salafi jihadis (al-harakah al-Jihâdiyyah as-Salafiyyah) dimunculkan oleh Ayman az-Zawahirî dalam majalah Al-Anshar di London tahun 1994. Sedangkan dalam literatur akademik digunakan oleh Gilles Kepel dan Kamil al-Tawil pada tahun 1998.46

Sementara pada sisi yang lain, Jihad-Salafisme muncul karena terinspirasi dari pemikiran Sayyid Quthb yang membagi masyarakat ini menjadi dua: Jâhiliyyah dan Islâmiyyah.47 Umat Islam harus mengubah masyarakat jahiliah ini menjadi masyarakat yang islami dengan menyerukan jihad melawan penguasa yang tidak melaksanakan hukum Allah. Meijer48 memberikan contoh terbaik dari gerakan Jihad-Salafisme, yakni Yusuf al-Uyairi yang mengombinasikan terminologi Salafi seperti tauhid, purifikasi, dan pentingnya niat yang ikhlas dengan menganalisis realitas secara kritis. Ia menyerukan jihad untuk mengubah realitas dan menciptakan aktivis sebagaimana yang pernah dipraktikkan kalangan Leninisme. Begitu pula yang dilakukan oleh Abû Mus’ab as-Suri yang melegitimasi jihad melawan musuh karena melihat realitas yang sekuler dan besarnya pengaruh Barat terhadap generasi muda. As-Suri membentuk barisan Mujahidin dan membenarkan perilaku bom bunuh diri. Sebagaimana dijelaskan al-Rashîd, kelompok Jihad-Salafisme ini merupakan konstruksi hybrida sebagai respons atas modernitas Barat yang telah memarginalkan tradisi autentik Islam.

Pemberdayaan yang dilakukan Jihad-Salafisme menggunakan propaganda secara luas, memutar klip video dan teks-teks kepada kaum muda di Barat dan Timur. Gelombang jihad semakin besar dengan menggunakan jaringan regional para ulama, seperti yang dilakukan Abu Muhammad al-Maqdisi dan al-Uyairi, yakni menggunakan internet untuk membuka situs, merekrut dan mengajak jihad global, memberikan nasihat-nasihat agama. Melalui jaringan internet, mereka mengajak melawan pemerintah yang tidak menjalankan syariat Islam.

Assaf Moghadam menjelaskan bahwa Jihad-Salafism adalah ideologi yang berfungsi memberikan kesadaran kepada umat muslim untuk memahami bahwa keadaan umat Islam telah mengalami kemunduran dalam bidang agama, militer, ekonomi dan budaya. Ia berusaha menciptakan identitas baru bagi penganutnya. Beberapa sarjana Barat menilai bahwa kaum Salafi sedang mengalami krisis identitas karena kebingungan mereka menghadapi modernitas. Jihad-Salafism menjanjikan situasi baru yang entitasnya supranasional dengan menanamkan gagasan satu, yaitu komunitas Islam global yang aman, terhormat dan tidak tertindas.

Lebih lanjut Moghadam menjelaskan bahwa jihad-Salafisme merupakan ideologi keagamaan yang muncul karena tiga hal. Pertama, Jihad-Salafism mengilustrasikan diri dan musuhnya dengan menggunakan istilah-istilah agama, melabeli diri sebagai “tentara Muhammad”, “singa Islam”, atau memberi label musuhnya dengan “tentara salib”, “murtad” atau “kafir”. Kedua, jihad-Salafism menjelaskan strategi dan misinya sebagai salah satu ajaran agama. Mereka mengklaim bukan serangan bunuh diri, misalnya, tetapi “operasi mati syahid” dan mengklaim bahwa kaum Syi’ah adalah murtad. Ketiga, melegitimasi tindakan kekerasan dengan referensi yang selektif dan bersumber pada Alquran dan hadis.

Berbeda dengan kelompok Jihad-Salafisme, Nas}îr al-Dîn al-Albânî dan Muqbil Hâdî al-Wâdî‘î bukanlah kelompok takfîrî, meskipun secara genealogis memiliki kaitan dengan Wahabi. Di sinilah timbul pertanyaan: apakah Salafi Jihadis bisa diterapkan pada semua gerakan Salafi? Hegghammer menegaskan bahwa terma Salafisme bersifat teologis, bukan kategori politik.52 Maka, muncullah problem ketika Salafisme dicampurkan dengan konsep jihad, sebagaimana dipahami oleh Salafi jihadis. Hegghammer menawarkan model baru yang didasarkan pada kategori analitis untuk menghindari kebingungan ini, yakni kategori politik. Jika kelompok itu memiliki kepedulian (concern) tinggi pada program politik, maka dia termasuk Jihad-Salafisme. Jika rendah, maka ia termasuk kelompok Salafi. Hal ini dapat menjawab kecenderungan berbagai pihak yang cenderung menghubungkan Salafisme dengan kekerasan.

 Karena varian Salafime yang sangat beragam dan bercampur begitu rupa, Salafisme tidak mesti berkaitan dengan kekerasan. Ia mempunyai banyak tipologi.53 Salafisme yang selama ini dikenal dengan identitas puritan dan taat (saleh) hadir dengan berbagai orientasi: Abû Muh}ammad al-Maqdisî dengan orientasi ke-umat-an, al-Jamâ’ah al-Islâmiyah Mesir dengan orientasi moral, dan Abû Mus’ab az-Zarqâwî dengan orientasi sektarian. Ini berbeda dengan mereka yang berorientasi pada pembangunan politik dan nasionalisme dengan fokus bangsa dan Negara, sebagaimana diklaim oleh kelompok Ikhwân al-Muslimîn.

Hagghammer membagi bentuk Salafisme dalam dua kelompok: Salafi yang terjun pada politik praktis dan Salafi yang berpolitik dalam tataran pemikiran saja. Dalam pandangan Thariq Ramadhan, perubahan orientasi kaum Salafi dari apolitis menjadi politis dan kemudian menjadi gerakan ekstrem dalam bentuk jihad disebabkan oleh pemahaman teks yang dibarengi dengan penalaran (rasio). Hal ini bisa dilihat pada gambar 1.

Penutup
Munculnya global-Salafisme sebenarnya dimulai dari keinginan kembali kepada masa lalu, yaitu masa as-salaf ash-s}âlih}. Pada perkembangan berikutnya, ia mengalami pergeseran, dari ide pemikiran yang bersifat teologis menjadi gerakan politis (Jihad-Salafisme). Hal ini disebabkan oleh beberapa hal: (1) pemahaman Salafi skriptualis dan literalis, (2) klaim diri sebagai identitas dan doktrin yang diajarkan menyebabkan muncul sense of superiority yang berlebihan, sehingga menumbuhkan perilaku politik yang membentuk sikap berani yang mewujud dalam bentuk jihad (perang), (3) konsekuensi yang muncul kemudian adalah fanatisme, vandalisme, kekerasan, bahkan bom bunuh diri.

Bagaimanapun juga, Salafisme telah mengalami diaspora, berubah warna sesuai dengan tempat di mana Salafisme berkembang dan dikembangkan (mimikri), dan pada saat yang tepat berubah bentuk, terkondisi oleh tempat dan pimpinan Salafi. Di seluruh dunia, Salafi mempunyai agenda politik yang berbeda. Dengan demikian, terdapat arah yang berbeda pula. Ini adalah salah satu alasan mengapa gerakan Salafi menyisakan kesulitan dalam analisis. Hegghammer memberi pesan agar hati-hati dan tidak mencampuradukkan orientasi teologis dengan gerakan sosial.

Kesulitan analisis yang dikeluhkan oleh Hegghammer dalam memahami global Salafisme sebenarnya bisa diatasi dengan menggunakan teori-teori sosial (sebagaimana saran Richard C. Martin), dilanjutkan dengan spatial analysis (Kim Knott) bahwa dalam global Salafisme terdapat juga sifat-sifat terbuka dalam penyebaran, sekaligus aspek-aspek tertutup ketika memaknai teks. Semua itu dipengaruhi oleh dimensi berbeda yang sifatnya dinamis dan fleksibel.(***)



Melacak Gerakan Radikal Islam dari Wahabisme ke Global Salafisme 
Bagian (1): Akar Kemunculan Salafisme
Bagian (2): Doktrin dan Identitas Diri
Bagian (3): Doktrin Salafi dan Politik
Bagian (4): Jihad Salafisme





Daftar Pustaka
Al-Atsari, Abdullah bin Abdul Hamid. Intisari Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Jakarta: Pustaka Imam Asy-syafi’i, 2007.
Assunah Foundation of America, 1997.
Binder, Leonard. “The Religious Aesthetics of Sayyid Qutb: A Non Scriptural Fundamentalism” dalam Islamic Liberalism: A Critique of Development Ideologies. Chicago: The University of Chicago Press, 1988.
Commins , David. The Wahhabi Mission and Saudi Arabia London: I.B.Tauris, 2006.
Delong, Natana J. Wahhabi Islam; From Revival and Reform to Global Jihad. New York: Oxford University Press, 2004.
Esposito, John L. Ragam Ekspresi Menuju Jalan Lurus, terj. Arif Maftuhin. Jakarta: Paramadina, 2010.
Husein, Ed. Matinya Semangat Jihad; Catatan Perjalanan Seorang Islamis, terj. Abdul Malik. Jakarta: Pustaka Alvabet, 2008.
International Journal of Middle East Studies, vol. 39.
ISIM Review, vol. 21, Spring, 2008.
Journal Article, CTC Sentinel, volume 1, issue 3, Februari, 2008.
Madjid, Nurcholis. Islam Doktrin Dan Peradaban. Jakarta: Paramadina, 1992.
Meijer , Roel. Global Salafism; Islam’s New Religious Movement. London: C. Hurst Company, 2009.
Middle East Policy, vol.VIII, no. 4, Desember, 2001.
Prisma, vol. 29, Oktober, 2010.
Rahman , Fazlur. Islam, terj. Ahsin Muhammad. Bandung: Pustaka,1984.
Ramadhan , Thariq. Western Muslims The Future of Islam. Oxford: Oxford University Press, 2004.
Previous Post Next Post