Belajar Cinta dari Jalaludin Rumi (4): Jika Cinta Tuhan, Muslim atau Non-Muslim, Tak Penting Lagi

Semua puisi Rumi diciptakannya dalam konteks cintanya kepada Tuhan. Ketika cinta sudah memehuhi hati seseorang, sebutan apapun tidaklah penting baginya. Demikian pula jika dikaitkan dengan identitas agama, sebutan sebagai seorang muslim atau non muslim bagi seorang yang hatinya penuh oleh cinta kepada Tuhan tidaklah penting. Bahkan baginya untuk beramal dan menyembah Tuhan tidak tergantung pada ada atau tidaknya surga. Ia beramal bukan karena takut pada neraka. Berikut lanjutan kajian Muhammad Yusuf el-Badri (dari Lembaga Riset Sakata Indonesia) yang dipublikasikan dalam Jurnal Penelitian Keislaman, Vol. 11, No. 1, Januari 2015.


Seorang muslim bagi Rumi adalah seorang yang hanya beramal untuk mengaharapkan cinta Allah saja. Sehingga pandangan ini dalam pendapat Rumi bahwa Di dunia ini tidak akan terjadi apapun kecuali atas dasar cinta. Rumi mengungkapkan;
Cinta adalah laut tak bertepi, langit hanyalah serpihan buih belaka
Ketahuilah, langit berputar karena gelombang cinta
Andai tak ada cinta, dunia akan membeku.
Sebagai seorang pemikir sekaligus sastrawan Rumi berusaha memberikan pengertian-pengertian bahwa tidak akan ada hidup tanpa cinta. Jika seseorang hidup tanpa ada rasa cinta maka kehidupan tidak akan pernah damai dan kehidupan manusia akan berantakan. Manusia akan hidup dalam ketakutan terhadap sesama mereka. Untuk membangun cinta di dunia menurut Rumi pengorbana merupakan hal yang mutlak untuk dilakukan. Tidak ada cinta tanpa pengorbanan.
Bila bukan karena Cinta,
bagaimana sesuatu yang organik berubah menjadi tumbuhan?
Bagaimana tumbuhan akan mengorbankan diri
demi memperoleh ruh (hewani)?
Bagaimana ruh (hewani) akan mengorbankan diri
demi memperoleh Ruh yang menghamiliMaryam?
Semua itu akan menjadi beku dan kaku bagai salju,
tidak dapat terbang serta mencari padang ilalang bagai belalang
Setiap atom jatuh cinta pada Yang Maha Sempurna
dan naik ke atas laksana tunas
Cita-cita mereka yang tak terdengar,
sesunggunya adalah lagu pujian Keagungan pada Tuhan.

Atas nama cinta semuanya membutuhkan pengorbanan. Apa yang dikatakan oleh Rumi di atas merupakan bentuk pengorbanan antar satu makhluk terhadap makhluk lain yang berakhir pada kebutuhan manusia. Pengorbanan itu dilakukan semata-mata untuk sebuah cinta pada Tuhan Yang Maha Agung. Setiap makhluk diciptakan Allah Swt., Tuhan Yang Maha Besar, mempunyai keinginan untuk segera bertemu dan rindu kepada asal Penciptanya.

Selama ini Jalaludin Rumi dipandang hanya sebagai seorang sufi dengan konsep cintanya. Konsep cinta Rumi senantiasa diartikan hanya membicarakan hubungan manusia dengan Tuhan saja. Sehingga sangat jarang bahkan hampir tidak ada yang mengungkap pemikiran Jalaludin Rumi selain ajaran tentang keber-agama-an dalam kaitannya dengan hubungan antar manusia melalui puisi yang ditulisnya. Sejatinya selain ajaran cinta kepada Allah yang ditertuang dalam puisinya, Rumi juga mengajarkan sikap toleransi dalam beragama tanpa saling menyalahkan dan merasa benar. Puisinya di atas merupakan sala satu dari banyak puisi yang mengungkapkan bahwa cinta pada Tuhan tidak serta-merta bebas dan lepas dari lingkungan dan alam.

Beragama –ber-Islam- menurut Jalaludin Rumi, jika dikaitkan dengan kehidupan ber-agama, maka ber-Islam tidak semata-mata mengatur hubungan manusia dengan Tuhan sebagai pencipta tapi juga hubungan dengan manusia dan manusia lainnya. Semua hubungan dengan manusia harus dijalankan atas dasar cinta. Benci pada manusia pada hakekatnya merupakan penyakit hati dan akan mengotori hati manusia. Hati yang tidak bersih dan suci bagaimana ia akan mampu mencintai Tuhan Yang Maha Suci. Tidak mungkin hal yang kotor dapat menemui yang bersih. Jika kotoran dan penyakit hati harus diobati dan disembuhkan.

Jalaludin Rumi sangat menganjurkan agar manusia hidup dengan menjadikan cinta sebagai dasar. Cinta itu akan menghilangkan segala prasangka dan kebencian yang hanya akan membatasi dan menghambat hati manusia untuk mengenal Allah Swt. Jika hidup toleransi merupakan bagian dari pluralisme Rumi mengajarkan lebih dari sekedar toleransi dalam hidup. Perlunya manusia untuk berbaik sangka terhadap apa yang terjadi dengan manusia lain karena tidak seorangpun tahu bahwa ia sedang diuji. Sebaliknya tidak semua perbuatan yang tidak baik dilakukan oleh seseorang atas kehendaknya sendiri. Rumi dalam hal ini memandang bahwa setiap prilaku yang dilakukan oleh manusia tanpa ia mampu menolaknya adalah taqdir Allah terhadap manusia dan ujian terhadap manusia lain. Hal itu sebagaimana terdapat dalam puisinya:
Baik Musa maupun Fir’aun adalah Pemuja Yang Maha Besar
Sekalipun tampak yang pertama menemukan jalan
dan yang lain kehilangan jalan
di siang hari Musa berseru kepada Tuhan;
di Tengah malam Fir’aun mulai merintih.
Dalam ungkapan di atas, Jalaludin Rumi memposisikan Musa dan Fir’aun dengan sejajar. Ia menganggap Musa as. beribadah secara terang-terangan dan Fir‘aun secara tidak sadar juga mengakui kekuasaannya tergantung pada Yang Maha Kuasa42. Musa pada puisi ini adalah simbol seorang muslim yang taat dan mengakui ke-Esa-an Tuhan secara nyata. Sementara itu Fir‘aun adalah simbol manusia ingkar kepada Allah yang ia sendiri tidak dapat memahami apa yang terjadi dengan dirinya sebagai takdir Ilahi. Ia juga tidak dapat menolak diri sebagai seorang yang inkar kepada Allah. Keinkarannya kepada Tuhan sesuai dengan kehendak dan pengetahuan Allah. Bagi Rumi selama manusia mengakui Tuhan Yang Esa maka selama itu pula ia adalah seorang hamba Tuhan.
Menurut Pandangan Rumi, penamaan seperti kafir, murtad, Kristen, Yahudi, Nasrani dan yang lainnya tidak akan berarti apa-apa jika ia mengesakan dan mencitai Tuhan Yang Satu. Ia mengatakan;
Lihatlah, karena aku tak tahu tentang diriku
Dengan nama Tuhan, apa yang harus ku perbuat kini?
Jika pada bait di atas ia ‘mengaku’ sebagai muslim, yahudi, nasrani dan zoroaster namun dalam bait berikutnya berbeda dan seolah ia menegaskan kembali bahwa ia bukan sebutan muslim atau non muslim baginya yang penting, dalam bait ini ia menyebutkan;
Aku tidak menyembah salib ataupun sabit,
Aku bukan seorang gabar maupun Yahudi
Rumahku bukan di Timur maupun di Barat,
bukan di daratan Maupun lautan
Aku tak beranak-keluarga dengan Malaikat ataupun jembalang.
Ini berarti bahwa tuduhan terhadap Rumi sebagai seorang yang kafir atau murtad tidak dapat diterima. Sebab tidak sedang menganggap dirinya sebagai pengikut ajaran yahudi, nasrani maupun kristen dalam konteks ritual. Sekaligus menegaskan bahwa ia juga tidak sedang menyatukan semua agama dan menganggap semua agama benar. Tetapi ia hanya mengajarkan bahwa tidak penting muslim atau non muslim, yahudi atau nasrani, yang penting adalah ia menyembah Tuhan yang satu.
Dalam kesempatan lain Rumi mengatakan:
Dalam agama kita berpergian diakui sebagai peperangan dan bahaya
Dalam agama Yesus ia berarti
Mengasingkan diri ke gua dan pegunungan
Sunnah ada jalan paling aman
Dan orang beriman adalah teman perjalan paling baik
Jalan menuju Tuhan itu penuh rintangan dan kepedihan
Bukan jalan bagi orang seperti perempuan
Di atas jalan ini jiwa manusia di uji dengan ketakutan
Sebab sebuah bahaya digunakan untuk menjaring sekam padi.
Dalam puisi ini Rumi tidak menyamakan atau menganggap benar apa yang ada dalam agama kristen. Ia hanya sedang mengatakan bahwa untuk menemui Tuhan itu bukan perkara mudah. Dalam kalimat di atas secara bahsa ia menyerupakan perang dalam Islam dan pengasingan dalam kristen dalam merupakan upaya pencaharian Tuhan. Jalan yang ditempuh oleh setiap orang yang ingin bertemu dengan Tuhan tidaklah sama. Perumpamaan tersebut dikatakan Rumi dalam dalam konteks kesusahan dan itu terdapat dalam bait:
Sunnah ada jalan paling aman
Dan orang beriman adalah teman perjalan paling baik
Jalan menuju Tuhan itu penuh rintangan dan kepedihan.
Sunnah yang dimaksud tentu saja apa yang diajarkan oleh nabi Muhammad Saw kepada manusia. Hal ini senada dengan apa yang dikatakan oleh Umar bin Khattab bahwa taqwa itu adalah hati-hati dalam perjalanan. Sebab perjalanan taqwa itu penuh dengan rintangan dan bahaya. Dan bahaya yang paling besar menurut Rumi adalah hawa nafsu yang ada dalam setiap tubuh manusia. Ia terkadang menimbulkan kebencian dan amarah yang hanya akan mengurangi cinta dan kesucian hati.
Pada kesempatan lain terdapat pula pandangan Rumi terhadap umat kristen ;
Sang musuh agama Isa menyusun dua belas kitab Injil
Masing-masing dari awal hingga akhir bertentangan
Setiap golongan agama hanya meramalkan tujuan sebagaimana
Diri mereka memahaminya
Akibatnya mereka jatuh menjadi tawanan ketakutan
Untuk meramalkan tujuan
Tidaklah semudah menyilangkan kedua belah tangan
Bila tidak bagaimana terdapat banyak ajaran yang berbeda?.
Ini merupakan bukti bahwa kristen yang diakui dan dianggap benar oleh Rumi bukanlah yang ada saat ini namun yang ada dan murni ajaran nabi Isa as. Ajaran kristen yang ada saat ini menurut Rumi adalah ajarang yang dibuat oleh orang yang tidak senang dengan agama Ibrahim yang mengajarkan Satu Tuhan. Sehingga ia menyinggung;
Dalam kitab lain dia berkata; semua bentuk yang
Bermacam-macam hanya satu
Siapapun yang melihatnya ganda adalah
Orang yang matanya rusak
Dalam kitab lain ia berkata;
Bagaimana seratus bisa menjadi satu?
Dia yang beranggapan itu sungguh telah gila.
Demikian pula sikap Rumi terhadap perbedaan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat ia mengatakan;
Dengan cara inilah seorang Yahudi menceritakan mimpinya
Oh, banyak orang Yahudi yang akhirnya patut dipuji
Jangan menolak orang yang kafir
Karena dapat diharapkan kelak dia mati sebagai muslim
Pengetahuan apakah yang engkau miliki tentang akhir hayatnya
Sehingga engkau mengambil sikap
untuk memalingkan wajahmu darinya?
Dengan banyaknya perbedaan yang saling bertentangan yang terjadi dalam ajaran nabi Isa maka bagaimana pun ia harus tetap dihormati dan dihargai. Sebab tidak ada seorang pun tahu apa yang terjadi di akhir hidupnya selain Allah. Oleh sebab itu pluralisme Rumi semata-mata memadang perbedaan sebagai sebuah kenyataan bukan membenarkan semua agama dan tidak pula menganggap semua agama benar.

Menurut Lutfi Allah bin Abd Adhim Khaujah dalam kitab Fatawa wa Ishtishara Mauqi‘a al-Islam al-Yaum bahwa Jalaludin Rumi adalah seorang pluralisme agama (Wihdat al-Adya>n). Wihdat al-adyan yang berarti bahwa Islam adalah agama Ibrahimiyah, ajaran yang mengajarkan hanya ada Satu Tuhan. Dengan demikian Lutfi menyimpulkan bahwa Pluralisme Jalaludin Rumi adalah pluralisme dengan istilah wihdat al-adyan yang berarti bahwa agama yang mempercayai hanya ada Satu Tuhan, atau agama Ibrahimiyah. Bagi Rumi sebutan sebagai seorang muslim, yahudi atau nasrani tidaklah penting dalam agama. Sebab agama hanya mengajarkan bagaimana ber-Tuhan dan mencintai-Nya. Jika ia mempercayai ajaran Ibrahimiyah maka bagaimana mungkin ia tidak menerima Islam dan ajaran yang dibawa oleh nabi Muhammad Saw. Sebab setiap nabi mengajarkan agar ia mengikut pada nabi setelahnya. Demikian pula dengan Isa yang menganjurkan untuk mengikut nabi setelah yakni Muhammad Saw.

Tuduhan terhadap Rumi bahwa ia adalah seorang yang menyatukan agama tidaklah benar, sebab bagaimana mungkin seorang pengikut agama Ibrahim tidak mengikuti perintah nabi-nabi sesudahnya. Seorang pengikut agama Ibrahim yang benar dan taat sudah pasti akan mengikuti agama dan ajarang yang dibawa oleh nabi Muhammad Saw. Demikian juga dengan tuduhan terhadap Rumi yang mentolerir keberadaan agama lain sebagai ajarang yang benar, ini terbukti Jalaludin Rumi selalu menerima orang yang yang ingin menjadi murid untuk belajar dengannya tentang Tuhan dan Islam yang sebenarnya –dalam arti taat kepada Allah-. Bahkan ia juga berwasiat kepada murid-muridnya. Diantaranya ia mengatakan;
Aku berwasiat kepada kalian dengan Taqwa kepada Allah secara rahasia maupun terang-terangan, sedikitlah tidur, makan dan bicara, jauhi ma‘siyat dan berhala, rajinlah berpuasa dan konsisten dengan qiyam al-Lail, tinggalkan hawa nafsu, asingkan diri dari manusia, tinggalkan majlis orang-orang bodoh dan awam, bertemanlah dengan orang saleh dan mulia, sebaik-baik manusia adalah yang berguna untuk orang lain, dan sebaik-baik perkataan itu adalah perkataan singkat tapi bisa menjadi petunjuk.
Apa yang diwasiatkan oleh Rumi terhadap murid-muridnya itu tidak lain adalah apa yang juga diajarkan oleh nabi Muhammad Saw yang terdapat dalam al-Qur’an dan Sunnanya. Tentu saja Taqwa yang diajarkan Rumi tidak dapat dipisahkan dari ajaran agama Islam yang juga menganjurkan Taqwa. Untuk mencapai itu sudah barang tentu ia juga mengajarkan hal-hal atau amalan wajib bagi setiap muridnya. Sebab tidak ada amalan wajib jika tidak ada amalan sunah. Dalam pandangan Rumi amalan wajib tidak lain adalah amalan bagi orang yang tingkat imannya kepada Allah paling rendah. Sebagaimana Nabi Saw yang juga menganjurkan amalan sunah untuk dekat dengan Allah.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Rumi sedang tidak membenarkan semua agama. Ia hanya mengatakan bahwa di mana pun seseorang ada dan mencintai Tuhan dan patuh kepada-Nya maka ialah seorang muslim sejati. Muslim yang dimaksud Rumi adalah orang yang mencintai Allah dan mengesakan-Nya. Bukan muslim yang pada tahap pengakuan saja tetapi ia zalim dan durhaka kepada Allah dengan tidak menjalankan perintah Allah Swt.. Pandangan Rumi tentang agama akan semakin nampak ketika menganalisis seluruh Puisinya dengan sangat baik. Dengan mengurai satu persatu kata dan simbol yang digunakannya. Lalu memaknai dengan pandangan yang mendalam.[HABIS]
DAFTAR PUSTAKA
  • ‘At}iyah, Ibn. Tafsir Ibn ‘Atiyah, Beirut; Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2002.
  • Al-Asqalani, Ibn Hajr. al-Durur al-Ka>minat Fi> A‘ya>n al-Mi’ah al-Thaminah. India; Majlis al-Da>irah al-Ma‘arif al-Uthmaniyah, 1972.
  • Al-Bagawi, Abu Muhammad. Tafsir al-Bagawi. Da>r al-Tayyibah li al-Nash wa Tauzi‘, 1997.
  • Al-Husni, Abd al-Hayy. Nazhah al-Khawa>tir wa Bahjah al-Masa>mi‘ wa al-Nawa>zir. Beirut; Da>r Ibn Hazm, 1999.
  • Al-Misr, Abu Sa‘id, (ed). al-Mausu>‘ah al-Maujizah fi Ta>rikh al-Islami, Juz IV, tt.
  • Al-Ra>zi, Fakhr al-Di>n. Mafatih} al-Gaib. Beirut; Da>r al-Ih}ya’ al-Turath al-‘Arabi, 2000.
  • Al-Saqa>f, Abd Qa>dri, (ed). al-Mausu> al-Tarikhiyah. Mauqi‘ al-Durur, 2011.
  • Al-Zarkali, Khair al-Din. al-A‘la>m ,Da>r al-Ilm li al-Mala>yin, 2002.
  • Hadi, Sofyan. Sastra Arab Sufistik Nusantra. Disertasi UIN Jakarta, 2014.
  • Hidayat, Komarudin. Memahami Bahasa Agama, Sebuah Kajian Hermeneutika. Jakarta, Paramadina, 1996.
  • Ishaq , Abu. Tafsir al-Tha‘labi. Da>r al-Ih}ya’ al-Turath al-‘Arabi, 2002.
  • Jamaludin. al-Manhal al-Sufi wa al-Mustaufi Ba‘d al-Wafi>. al-Hai’ah al-Misriyah al-‘Ammah li al-Kutub, tt.
  • Mahfudz , Muhsin. Hermeneutika sebagai alternatif Pembacaan Teks. Alfikr, Vol. 17 Nomor 2 tahun 2013.
  • Nicholson, Renold A. Jalaludin Rumi, Ajaran dan Pengalaman Sufinya. Jakarta; Pustaka Firdaus, 2000.
  • Qurashi, Abd Qadir. Jawahir al-Madiyah fi> Tabaqa>t al-Hanafiyah. Krastishi;Mair Muhammad Kutub Khanah, tt.
Previous Post Next Post