Belajar Cinta dari Jalaludin Rumi (3): Puisinya Mencegah Perang?

Timbulnya pertentangan antara umat Islam semata-mata karena perbedaan padangan dalam persoalan politik, yang pada gilirannya menjadikan perbedaan agama (fikih dan akidah) sebagai instrumen perpecahan selanjutnya. Untuk mengatasi perbedaan pandangan, baik dalam masalah akidah maupun perbedaan fikih, agar tidak sampai pada perpecahan dan perang, para pemikir Islam menawarkan solusi pluralisme. Sedang Jalaludi Rumi memperkuat suaranya dengan puisi. Jalan yang dipilih Rumi layak untuk dilanjutkan karena dunia kini terbukti sudah semakin hancur akibat peperangan dengan mesiu. Kalau perang dengan puisi itu indah, kenapa kita harus merusak dunia dengan mesiu? Tapi sekuat apakah puisi kata-katanya Jalaludi Rumi ? Berikut kajian Muhammad Yusuf el-Badri (dari Lembaga Riset Sakata Indonesia) yang dipublikasikan dalam Jurnal Penelitian Keislaman, Vol. 11, No. 1, Januari 2015.




Waktu kelahiran dan wafatnya Jalaludin Rumi terdapat perbedaan pendapat di kalangan sejarawan. Adayang mengatakan Jalaludin Rumi lahir di Balkh (sebuah desa di Persia, sekarang Iran) lalu dibawa pindah oleh ayahnya ke Bagdad. Dalam Ensiklopedi sejarah dituliskan bahwa ia lahir pada tanggal 6 rabi‘ al-Awwal 604 bertepatan dengan 30 september 1207 M. Ketika berumur empat tahun (ada yang mengatakan ketika ia berumur menjelang tiga tahun) ia dibawa oleh ayahnya ke Bagdad (607 H). Ia juga sering ikut belajar tempat ayahnya bekerja sebagai seorang guru. Tak lama berselang ayahnya kemudian melakukan perjalan ilmiah dan tinggal sementara di berbagai daerah seperti Makkah, Damaskus, untuk mengajarkan hingga akhirnya menetap di Qoniah pada tahun 623 H/1226 M.31 Pada waktu di kota Qonia tersebut Jalaludin Rumi sudah menguasai ilmu fikih dan ilmu keislaman lainnya.

Abd al-Hayy al-Husni mengatakan bahwa salah seorang guru jalaludin Rumi yang terkenal adalah Syaikh Qutb al-Din al-Razi.32 Ia pun sempat belajar di kota Qonia selama 4 tahun. Setelah ayahnya wafat pada tahun 628 H ia juga meninggalkan aktifitas belajar dan dunianya hingga pada tahun 642 H. ia menjadi seorang sufi. Selama itu ia hanya melakukan riyadah dan mendengarkan musik dan membuat puisi. Ia juga menulis puisi dalam kumpulan yang berjudul al-Mathnawi yang diterbitkan di Persia (Iran sekarang) dan diterjemahkan dan disharah ke dalam bahasa Turki. Puisinya itu juga diterbitkan dalam bahasa persia dan bahasa Arab (33).

Jalaludin Rumi akhirnya bertemu dengan salah seorang sufi yang terkenal yaitu Sams al-Din Tabrizi yang mempengaruhi kesastrawanan dan cara berfikirnya. Pada saat  yang bersamaan ia juga ditemui oleh delegasi penguasa Qonia dan ketika itulah ia dikenal dengan nama Jalaludin. Ia pun diberi madrasah khusus oleh raja untuk mengajar(34).

Selain seorang Imam Mazhab fikih Hanafi, Jalaludin juga seorang ahli hadis dan ahli tafsir.  Ketika mengajar di madrasahnya -yang dibangun oleh Sultan Fairuz Syah- ia mengajarkan fikih, hadis dan ilmu tafsir. Di antara ulama yang belajar kepada Jalaludin Rumi adalah Syaikh Yusuf bin Jamal al-Multani. Bangunan itu dibuat oleh Fairuz Syah dibangun khusus di atas telaga. Madrasah tersebut dibuat dengan tiang yang tinggi, lapangan yang luas, dan kubah yang banyak sehingga terkesan sangat mewah. Madrasah yang dibangun oleh Sultan Fairuz Syah diberi nama dengan Madrasah Fairuz Shaziyah. Tidak ada bangun yang seindah dan semewah itu sebelumnya dan sesudahnya.

Al-Biruni mengatakan bahwa bangunan Madrasah tersebut merupakan salah satu keajaiban dunia dari segi keluasan pekarangan, keindahan serta kesejukan udaranya.   Meski ia sudah mempunyai tempat dan banyak murid untuk mengajar, namun ia memutuskn untuk hidup menjadi seorang sufi dan ia hanya sibuk membuat puisi lalu membuat tarekat yang kemudian dikenal dengan tarekat Maulawi. Nama tarekat, Maulawi‛ itu sendiri diambil dari nama Maulana Jalaludin Rumi. 37 Puisinya yang terkenal terdapat dalam kitab Mathnawi. Kekuatan puisi Jalaludin Rumi terdapat dalam bahasa yang digunakannya, analogi dan kedalaman makna yang terkandung dalam puisi itu. Untuk menjelaskan satu maksud dan makna ia mampu menulis dengan banyak ragam analogi. Ia mampu melahirkan makna baru dalam dan menyampaikan ide dan gagasannya dalam puisi. Selain itu kehebatannya sebagai seorang sastrawan yang ahli bahasa nampak dalam pilihan kata dan diksi serta wazan dalam puisinya. Puisi bagi Rumi sebagai ungkapan peristiwa yang penuh dengan simbol, makna yang terkandung dalam simbol itu
terlalu dalam jika dimaknai secara tekstual dan terpisah dari ide dan gagasannya tentang cinta.

Jalaludin Rumi membuat puisi tidak hanya sekedar menyampaikan gagasan dan ide serta imajinasi tapi juga sebagai penjelasan dan penafsiran makna al-Qur’an dan maqasid syari‘ah untuk membentuk karakter muslim bagi yang membacanya. Puisinya berisi tentang intisari al-Qur’an sebagai sumber ajaran Islam. Ajaran islam sendiri menurut rumi adalah ajaran cinta, dimana setiap orang diajarkan untuk saling mengerti dan mencintai makhluk. Pandangan seperti ini sangat lumrah dalam ajaran tasawuf.

Sebahagian pemikir mengatakan bahwa tasawuf pada dasarnya mengajarkan akhlak untuk mencapai keislaman sejati. Sebab nabi sendiri diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Dan al-Qur’an adalah akhlah rasul Saw. Jadi Rumi mengungkapkan ide dan gagasannya sebagaimana terdapat dalam banyak puisinya berada dalam konteks akhlak dan cinta bukan dalam konteks hukum.

Guna mengungkap makna teks yang ditulis Rumi dalam konteks akhlak maka analisis yang tepat digunakan adalah analisis hermeneutika. Selain alasan tersebut pemilihan hermeneutika untuk menganalisis juga memandang puisi sebagai hasil budaya yang mengungkap ide, gagasan dan perasaan seorang pengarang. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Ignas Kleden seperti dikutip Djoko Saryono bahwa sebagai hasil budaya ia memuat simbol yang berkaitan dengan penghayatan akal budi manusia dalam menjalani hidup.38 Dan sastra termasuk bagian dari wadah yang untuk menyampaikan ide, perasaan dan gagasan seorang pengarang. Hal itu tentu saja tidak terlepas dari penghayatan pengarang serta imajinasi yang mendalam sehingga melahirkan simbol-simbo yang diurai menjadi puisi. Pengarang dalam hal ini tidak lain adalah pembicara pertama tentang teks sastra. Dalam kaitannya dengan puisi Rumi, Rumi –dengan meminjam istilah P. Ricour- adalah pembicara pertama terhadap puisi-puisinya. Oleh karenanya, meskipun puisinya sudah membaku dalam bentuk teks namun keberadaan pengarang dan konteksnya dalam melahirkan karya masih tetap diperlukan sebagai mana disinggung di atas.

Hermenutika menurut P. Ricou berguna untuk memahami dan memaknai teks. Teks yang dimaksud adalah teks sebagai makna dan teks sebagai sesuatu yang hidup dan berubah. Teks yang hidup dan berubah bersifat otonom dan total. Teks ini menurut Ahmad Norma Permata, paling tidak mempunyai empat ciri, pertama, ia mempunyai makna ‘apa yang dikatakan’ terlepas dari pengungkapannya kedua, ia terpelas dari dari pembicara, dalam hal ini adalah pengarang teks itu sendiri, ketiga, makna teks terlepas dari konteks awal ia diciptakan keempat, teks juga lepas dari audiens pertama ketika teks itu ada (39).

Nur Syamsiah mengatakan bahwa dalam menggunakan hermeneutika sebagai analisis teks, maka sebenarnya sedang menggali makna dengan mempertimbangkan keberadaan pengarang, teks dan pembaca untuk menemukan makna baru dalam sebuah teks. Langkah kerja hemeneutik yang ditawarkan oleh Paul Ricour antara lain dimulai dengan mengidentifikasi simbol itu sendiri yang terdapat dalam puisi. Simbol tentu saja mempunyai dua kemungkinan makna yang berbeda, maka di sini dibutuhkan pengalaman dan wawasan untuk mengungkap makna yang sebenarnya. Langkah selanjutnya adalah memaknai simbol sebagai wacana dan simbo sebagai realitas. Langkah ke dua adalah langkah metaforis yaitu dengan mengungkap makna dengan metode pembalikan. Terakhir adalah menemukan makna yang mungkin muncul dari langkah metaforis (40).

Puisi Rumi sebagai hasil imajinasi dan penghayatannya terhadap agama sarat dengan makna yang tidak dapat dibaca secara tekstual saja. Ia bahkan akan menjadi salah jika diberi makna dari bacaan zahir teks semata. Kesalahan demi kesalahan memahami teks tersebut akhirnya membuat banyak orang berkesimpulan bahwa Jalaludin Rumi sudah murtad bahkan kafir. Ketidakmampuan seseorang memahami pemikiran Jalaludin Rumi yang terdapat dalam teks puisi sampai sekarang ia harus menerima tuduhan sebagai seorang kafir. Salah satu pemikiran yang sering disalahpahami adalah tentang pandangannya terhadap agama lain seperti yang diungkap sebagai berikut (41):
Jiwaku ini, wahai Cahaya yang bersinar terang
Tidaklah jauh dari ku, benar-benar tidak jauh
Cintaku ini, wahai Cahaya yang bersinar terang
Tidak lah jauh dari ku, benar-benar tidak jauh
Lihatlah ke sorban ini, ku pakai di kepalaku
Lihat jugalah ke sabuk ini, ku ikat di pinggangku
Ku bawa sabuk ini, (sebenarnya) aku tidak membawa apa-apa
Sebenarnya aku sedang membawa Cahaya yang tidak jauh dari ku
Saya adalah muslim, saya juga Yahudi dan Nasrani
Aku berwakal kepada mu al-Haq Yang Maha Tinggi
Yang tidak jauh dari ku
Aku tidak memiliki apa pun selain Tuhan Yang Satu
Baik di masjid atau gereja bahkan di tempa para berhala
Wajah Mu Yang Mulia sebagai tujuan adalah kenikmatan bagi ku
Tidaklah jauh dari ku, Ia benar-benar dekat.

Puisi tersebut sering dipahami oleh kebanyakan orang sebagai pengakuan Jalaludin Rumi sebagai seorang yang membenarkan semua agama tanpa melihat secara utuh. Yang sering diungkap hanya kalimat Saya adalah muslim, saya juga Yahudi dan Nasrani sebagai legitimasi untuk mengafirkan Rumi dan menuduh tarekat Maulawiyah sebagai ajaran sesat. Demikian juga dengan puisi Jalaludin Rumi lainnya ia mengatakan;
Lampu-lampu itu berbeda-beda,
Namun Cahaya itu sama; Ia datang dari Atas
Apabila engkau terus memandangi lampu
Engkau akan bingung; karena yang muncul penampakan jumlah
dan keragaman
Tetapkanlah pandanganmu pada Cahaya engkau akan terlepas dari dualisme yang melekat pada pada tubuh yang terbatas
Wahai engkau yang merupakan inti keberadaan
Pertentangan antara muslim, zoroaster
dan Yahudi tergantung pada pendirian
Beberapa orang India melihat seekor gajah
Untuk ditunjukkan dalam arena
Karena melihatnya dengan mata tidak mungkin
Maka setiap orang meraba dengan telapak tangannya
Tangan yang menyentuh belalainya akan berkata;
Binatang ini seperti pipa air
Yang meraba telinganya akan mengatakan ;
Ia seperti kipas dan seterusnya.

Jika dimaknai secara tekstual memang terkesan Rumi sedang membenarkan semua agama. Namun jika diurai secara bahasa maka pada puisi pertama Rumi sedang mengandaikan sorban dan ikat pinggangnya dengan Cahaya atau Allah Swt. Dalam puisi itu ada adat tasybih yang dihilangkan yaitu kaf yang berarti seperti atau laksana. Jika sampai disitu maka orang akan berpendapap bahwa rumi sedang menyamakan allah dengan benda-benda yang tidak ada artinya. Melihat puisi dengan menggunakan pengandaian tentu juga harus dilihat aspek apa yang dia samakan yang dalam ilmu bahasa disebut dengan wajh shibh. Dalam puisi jelas Rumi mengandaikan Tuhan dari aspek kedekatannya dengan Tuhan itu sendiri. Jadi makna puisi tersebut adalah bahwa Rumi dari segi kedekatannya dengan Tuhan sama seperti ikat pinggang dan sorban yang ia bawa ke mana pun ia pergi. Ia tidak terpisahkan dalam kondisi apa pun.

Demikian juga dengan puisi kedua yang menganggap fir’aun sebenarnya seorang yang mengakui adanya Tuhan. Pengakuan ini menurut Rumi berkaitan dengan Taqdir Allah sendiri yang menjadikan Fir’aun sebagai pelajaran untuk manusia. Ia tidak sedang mengatakan bahwa Fir‘aun seorang yang taat tapi lebih dari itu ia sedang mengatakan bahwa Fir’aun ditakdirkan untuk itu namun bukan takdir itu sendiri. Siapa pun tidak dapat mengubah apa yang telah Allah takdirkan kepada setiap orang. Selama seseorang menyembah Tuhan Yang Esa maka tidak ada jalan untuk menganggapnya sebagai kafir atau murtad.

Puisi ketiga Rumi mengibaratkan pencaharian Tuhan dengan seorang yang meraba seekor gajah. Seseorang akan mempunyai persepsi masing-masing tentang Tuhan sebagai mana ia mengatakan gajah seperti pipa air, kipas dan sebagainya. Namun yang perlu dicatat adalah bahwa ia tetaplah gajah yang satu. Artinya bagaimanapun Rumi menghargai pendapat, agama dan cara orang beribadah kepada Tuhan, ia berpendirian bahwa seseorang itu akan benar jika ia mengakui Satu Tuhan. Dengan kata lain, apa pun agamanya –sebagai sebutan formalis dan identitas- selama ia mengakui bahwa Tuhan adalah Satu maka ia adalah seorang muslim. [BERSAMBUNG]

  • Belajar Cinta dari Jalaludin Rumi (1): Siapapun yang Mencintai Tuhan, Muslim Sejati
  • Belajar Cinta dari Jalaludin Rumi (2): Antara Kesalahpahaman Pluralisme dan Radikalisme
  • Belajar Cinta dari Jalaludin Rumi (3): Puisinya Mencegah Perang?
  • Belajar Cinta dari Jalaludin Rumi (4): Jika Cinta Tuhan, Muslim atau Non-Muslim Tidak Penting Lagi

    Previous Post Next Post