Belajar Cinta dari Jalaludin Rumi (2): Antara Kesalahpahaman Pluralisme dan Radikalisme

Pluralisme selama dua dekade terakhir ini menjadi hangat kembali diperbincangkan tidak hanya di Indonesia tapi juga dunia Internasional. Hal ini muncul sebagai respon terhadap paham-paham agama yang radikal yang menyebabkan konflik antar agama dan sesama muslim. Berikut kajian Muhammad Yusuf el-Badri (dari Lembaga Riset Sakata Indonesia) yang dipublikasikan dalam Jurnal Penelitian Keislaman, Vol. 11, No. 1, Januari 2015.

Gerakan radikalisme, menurut Zainal  merupakan kerinduan terhadap masa kejayaan Islam masa lalu (14). Pluralisme sendiri sering disalah- pahami sebagai penyatuan semua agama atau menganggap semua agama benar. Pluralisme juga sering diartikan upaya penyeragaman seperti yang dikatakan oleh Ana Malik Toha. Ia menyebut pluralisme sebagai agama baru(15). Perbedaan ini karena memang belum ada kesepakatan di antara para pemikir Islam tentang tentang pluralisme itu sendiri.

Istilah pluralisme dalam bahasa Arab paling tidak ada dua; pertama, ta‘addudiyat al-adyan dan wihdat al-adyan. Pandangan pertama berpendapat bahwa pluralisme berarti bahwa setiap manusia harus menerima perbedaan pandangan, keyakinan dan agama. Selain itu juga berpendapat bahwa agama pada hakikatnya hanya satu yaitu mengajarkan manusia untuk meng-Esa-kan Tuhan. Perbedaan agama itu sendiri menurut pandangan ini adalah bagian dari sebuah kenyataan yang tidak bisa ditolak oleh manusia. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Allah Swt. dalam Qs. Al-Maidah [5]; 48. :
"Dan Kami telah turunkan kepadamu al-Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, Yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap Kitab-Kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu."


Dalam Tafsir al-Thalabi karangan Abu Ishaq al-Thalabi16 dijelaskan bahwa makna shir’at dan minhaj bahwa ahli Taurat, ahli Injil dan ahli al-Qur’an mempunyai syariat sendiri-sendiri. Dalam masing-masing syariat itu Allah telah menghalalkan dan mengharamkan apa yang dikehendaki-Nya. Namun demikian agama ini pada dasarnya hanya satu dan syari’atnya saja yang berbeda-beda. Tujuan Allah menjadikan hal itu berbeda tidak lain adalah untuk menguji manusia sehingga terlihat jelas siapa yang taat dan siapa yang durhaka kepada Allah, oleh karena itu maka hendaklah manusia berlomba-lomba untuk berbuat baik (17). Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan oleh Ibn‘Atiyah (18).

Dalam tafsirnya, ia menjelaskan bahwa makna ًاجاهْنِمَو ًةَعْر ِ ش ْمُكْنِم انْلَعَج ٍّلُكِل sebagaimana dikatakan oleh ‘Ali ibn Abi Talib r.a, Qatadah dan jumhur mutakallimin adalah orang Yahudi, Nasrani mempunyai syariat dan metode/jalan masing-masing demikian pula dengan umat orang Muslim. Al-Qadi Abu Muhammad menegaskan bahwa hal ini hanya berlaku pada tataran hukum/ibadah sebab pada hakekatnya agama itu hanya satu untuk semua manusia yaitu mentauhidkan Allah, percaya pada hari kebangkitan dan membenarkan setiap rasul Allah(19).

Mengenai hukum/ibadah muncul pula perbedaan dikalangan ulama. Ada yang berpendapat bahwa semua syariat dan cara beribadah yang diajarkan melalui wahyu kepada umat terdahulu secara tidak langsung hilang dan digantikan oleh syariat Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad Saw. Maka tidak ada lagi agama yang sah dan syariat yang diakui kecuali apa yang terdapat dalam al-Qur’an dan yang telah diajarkan oleh nabi Muhammad. Hal ini dijelaskan oleh Fakhr al-Din al-Razi20 dalam tafsir Mafatih al-Gaib bahwa bila al-Qur’an adalah sebagai saksi akan kebenaran kitab terhadulu yakni Zabur dan Taurat maka tidak ada jalan untuk menghapus/ menggantikan hukum yang ada pada kitab-kitab itu. Sebab al-Qur’an hanya bersifat memberitahukan posisi dan kebenaran kitab yang telah diturunkan kepada nabi terdahulu(21).

Kelompok kedua, yang menggunakan kata pluralisme dengan istilah wihdat al-adyan berpendapat bahwa agama yang pada prinsipnya datang dari Allah mengajarkan Tauhid. Setiap ajaran dan agama yang mengajarkan tauhid yakni meng-Esa-kan Tuhan adalah Islam. Kelompok ini juga beralasan bahwa semua nabi yang datang sebelum nabi Muhammad Saw juga mengajarkan dan mengakui ke-Esa-an Tuhan. Semua agama yang turun sebelum Nabi adalah Islam. Sebagaimana terdapat dalam QS. Ali Imran [3];19
Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam‛.
Islam dalam ayat tersebut menurut kelompok kedua berlaku universal dan umum. Ia tidak berlaku khusus pada agama yang dibawa oleh nabi Muhammad saja tapi juga berlaku pada semua agama yang datang sebelumnya. Islam dalam konteks ini berarti penyerahan diri secara total kepada Tuhan dan beramal saleh. Abu Muhammad al-Bagawi menjelaskan bahwa menurut al-Kisa’i sebelum ayat itu ada kalimat yang dihilangkan yaitu ُم َ لَْسِْ لْا ِهَّللا َدْنِع َنيِّدلا َّنَأ َدِهَشَو َوُه َّ لَِإ َهَلِإ َ لَ ُهَّنَأ ُهَّللا َدِهَش atau boleh juga شَهِدَ اللَّهُ أَنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الِْْسْلََمُ بِأَنَّهُ لََ إِلَه إِلََّ هُوَ .

Islam di sini berarti damai dan penyerahan. Qatadah menegaskan bahwa Islam berarti menyatakan Tidak ada Tuhan selain Allah dan percaya dengan apa yang dibawa oleh para rasul-Nya. Al-Bagawi juga menyebutkan bahwa ketika ayat (Qs. Ali Imran [3]: 20)

Rasulullah Saw membacakannya pada orang ahlul kitab, mereka menjawab kami Islam (menyerah kepada Allah) lalu Rasul Saw bertanya kepada orang-orang Yahudi; :apakah kalian bersaksi/meyakini bahwa Isa as. adalah kalimatullah, hamba dan Rasul Allah? Mereka menjawab; kami berlindung kepada Allah. Rasul Saw juga bertanya kepada orang-orang Nasrani; apakah kalian bersaksi/ meyakini bahwa Isa as adalah hamba dan Rasul Allah? Mereka menjawab; kami berlindung kepada Allah, Isa as adalah hamba Allah. Selanjutnya Allah mengatakan; Jika mereka berpaling dari keyakinan itu maka Engkau (Muhammad) hanya bertugas menyampakan saja. Dan Allah maha melihat dengan hamba-hamba-Nya. Maksud akhir ayat ini menurut Bagawi adalah Allah Maha Tahu dengan siapa yang beriman dan siapa yang tidak beriman. Dengan demikian kelompok kedua ini memahami bahwa selama ia percaya bahwa hanya ada Satu Tuhan dan mereka beramal maka mereka adalah Islam.

Pluralisme yang dimaksud di sini sebagai mana dikatakan oleh Moh. Nur Salim yaitu menerima perbedaan dan keragaman bukan proses penyatuan atau peleburan semua agama menjadi satu23. Perbedaan di tengah masyarakat merupakan sebuah keniscyaan yang mesti diterima dengan baik. Pluralitas ini muncul karena perbedaan pengetahuan, pengalaman dan kemampuan yang disebut oleh Nur Salim sebagai pluralitas normatif. Kecuali itu, Nur Salim juga menyebutkan pluralitas substantif yang berarti bahwa adanya perbedaan yang tidak dapat dihindari yaitu perbedaan prinsip, akidah dan teologi.

Perbedaan inilah yang mengakibatkan adanya perbedaan agama dan mazhab dalam setiap agama. Setiap orang tidak dapat dipaksa untuk mengikuti satu prinsip, agama maupun mazhab. Oleh karenanya perbedaan itu tidaklah harus dihapuskan dengan penyatuan atau peleburan semua yang berbeda. Bagi sehagian umat Islam terkadang perbedaan mazhab, landasan teologi dan dijadikan alasan untuk saling memaki, menghujat bahkan kafir-mengafirkan.

Perbedaan demi perbedaan -terutama yang dijadikan legitimasi pengafiran-menurut Jalaludin Rahmat ditimbulkan oleh cara pandang terhadap terhadap nas yang berkaitan dengan akidah bahkan ada juga yang berkaitan dengan persoalan fikih (furu’iyah). Jalaludin Rahmat mengatakan perbedaan teologi merupakan imbas dari  perbedaan politik. Hal ini sesuai dengan apa yang ditulis oleh Shahrastani dalam al-Milalwa al-Nihal bahwa ‚tidak pernah darah ditumpahkan dan pedang dihunus dalam Islam kecuali pertikaian masalah imamah (kepemimpinan)‛.

Dari ungkapan tersebut jelas bahwa pertentangan antara umat Islam yang sampai pada perselisihan dan perpecahan semata-mata karena perbedaan padangan dalam persoalan politik yang pada gilirannya menjadikan perbedaan fikih dan akidah sebagai instrumen perpecahan selanjutnya. Untuk mengatasi perbedaan pandangan baik dalam masalah akidah maupun perbedaan fikih agar tidak sampai pada perpecahan dan perang, para pemikir Islam menawarkan solusi pluralisme. Mengenai pluralitas ini Jalaluddin Rumi juga mengemukakan bagaimana agar semua umat menghargai perbedaan agama dan pandangan tanpa kekerasan. Menghargai perbedaan itu menurut Rumi harus atas dasar cinta. Pandangan pluralisme Rumi dikemukakannya dengan media sastra yakni puisi yang akan dijelaskan pada bagian analisis puisi Rumi.

Jalaludin Rumi adalah seorang fakih (pakar ilmu fikih) terutama fikih mazhab Hanafi. Selain seorang fakih ia juga terkenal sebagai sastrawan muslim yang banyak dijadikan rujukan oleh hampir sastrawan dunia muslim maupun non muslim. Jalaludin Rumi mempunyai nama lengkap Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Husain bin Ahmad bin Qasim bin Habi>b bin Abd Allah bin Abi Bakr al-S}iddiq.25 Nama Jalaludin Rumi sendiri sering disebut dengan sebutan Maulana Jalaludin. Hal ini untuk membedakan dengan Jalaludin yang lain seperti Jalaludin gelar dari Hasan bin Ahmad bin Qadi al-Qudat bin Hisam al-Din al-Hasan dan Jalaludin; al-Imam Muhammad ibn al-Imam Saif al-Din Sa‘id bin al-Mutahhir bin Sa‘id al-Bakharazi serta Jalaludin al-Khabbazi ‘Umar bin Muhammad bin ‘Umar al-Imam(26).

Muhy al-Din al-Hanafi mengatakan bahwa Maulana Jalaludin Rumi merupakan salah seorang Imam ‘Arif fikih mazhab Hanafi. 27 Ibn Hajar menegaskan bahwa Rumi salah satu Imam mazhab fikih Hanafi, yang mahir dalam ilmu nahu/tatabahasa arab, cerdas dan zuhud. Ia sangat terkenal sebagai ilmuan yang sering melakukan perjalanan dan pertemuan ilmiah dan mengajar. Ia bahkan termasuk ulama yang disegani oleh penguasa ketika itu bahkan ia dikenal pula dengan Sultan Maulana Jalaludin. ia tetap dihormati oleh penguasa negerinya sampai ia sudah tiada. Jalaludin Rumi wafat pada tahun 712 dan diwafatkan di Qonia (sebuah kota di Turki).28 Mengenai waktu kelahiran dan wafatnya ada terdapat perbedaan para sejarawan. [BERSAMBUNG]

  • Belajar Cinta dari Jalaludin Rumi (1): Siapapun yang Mencintai Tuhan, Muslim Sejati
  • Belajar Cinta dari Jalaludin Rumi (2): Antara Kesalahpahaman Pluralisme dan Radikalisme
  • Belajar Cinta dari Jalaludin Rumi (3): Puisinya Mencegah Perang?
  • Belajar Cinta dari Jalaludin Rumi (4): Jika Cinta Tuhan, Muslim atau Non-Muslim Tidak Penting Lagi
  • Previous Post Next Post