Belajar Cinta dari Jalaludin Rumi (1): Siapapun yang Mencintai Tuhan, Muslim Sejati

Jalaludin Rumi mengatakan bahwa di mana pun seseorang ada, bila mencintai Tuhan dan patuh kepada-Nya, maka ialah seorang muslim sejati. Muslim yang dimaksud Rumi adalah orang yang mencintai Allah dan mengesakan-Nya. Berkat kebesaran puisi-puisinya, Rumi banyak dipuja masyarakat berbagai agama dan etnis. Kendati begitu, ada juga yang menganggapnya sesat. Muhammad Yusuf el-Badri (dari Lembaga Riset Sakata Indonesia) pernah membahas masalah ini dalam kajian berjudul "Pluralisme Islam Analisis Hermeneutika Puisi Jalaludin Rumi" yang dipublikasikan dalam Jurnal Penelitian Keislaman, Vol. 11, No. 1, Januari 2015.  Berikut kutipan selengkapnya :

Kehadiran sastra di tengah masyarakat muslim, kian hari kian tidak mendapat tempat. Lebih dari itu, tidak sedikit pula kalangan muslim memperdebatkan sastra sebagai bagian dari Islam dan tidak sedikit dari mereka yang menolaknya. Sastra yang lahir dari ummat Islam sendiri sering memuat tentang tema fiqh, filsafat, sejarah, tasawuf dan kemanusiaan. Padahal sebagaimana dikatakan oleh Abdul Hadi bahwa -kebanyakan- karya sastra itu lahir sebagai hasil penafsiran pengarang terhadap al-Qur’an dengan cara takwil dan dijewantahkan melalui estetika sastra.1

Syukron Kamil dalam buku Sastra, Islam dan Politik mengungkapkan penyebab keraguan umat Islam –kalau tidak dapat dikatakan menolak- atas keberadaan sastra disebabkan beberapa hal, pertama, kurangnya perhatian ulama, pemimpin dan cendekiawan muslim terhadap sastra itu sendiri. Karya sastra sering dipandang sebagai hasil imajinasi yang tidak berarti apa-apa. Walaupun jangkauan nilai yang ditawarkannya sangat jauh dari apa yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Penyebab kedua menurut Sukron adalah karena diragukannya pengakuan Islam terhadap kebebasan berkreasi.2 Selain itu, Islam juga hanya dipandang sebagai hukum atau fiqh. Hamka sendiri sebagai Ulama yang juga Sastrawan mengakui bahwa ulama cenderung melihat sastra dengan kaca mata fiqh. Seolah-olah Islam hanya fiqh semata. Tidak ada Islam kalau tidak ada fiqh. Padahal nabi Muhammad sendiri menegaskan bahwa ia diutus untuk menyempurnakan akhlak. Di sisi lain ajaran -Islam- yang dibawanya adalah rahmat untuk seluruh alam.

Sebagai sebuah karya, sastra Islam sering ditolak dengan berbagai alasan oleh masyarakat muslim. Ada yang dijuluki kiyai cabul seperti Hamka karena menulis kisah cinta melalui novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijk dan Di bawah Lindungan Ka’bah. Alasannya adalah seorang Ulama tidak pantas menulis novel percintaan3. Jika seorang Ulama sekaliber Hamka saja masih ditolak karyanya apatah lagi hanya muslim biasa. Selain itu, penolakan terhadap sastra –sebagaimana tercatat dalam sejarah Islam- disebabkan oleh perbedaan pandangan terhadap Tuhan dan anggapan bahwa karya sastra itu akan merusak dan menyesatkan umat. Di dunia Islam Timur Tengah, kecaman demi kecaman terhadap orang-orang yang mengemukakan nilai-nilai keadilan melalui sastra puisi maupun novel terus terjadi tanpa henti. Sukron Kami menyebutkan bahwa Najib Mahfuz oleh kalangan al-Azhar dituduh sebagai seorang murtad dan bahkan sebagiannya ungkap Sukron seperti Ahmad Abu Zayd dan ‘Umar Abdurrahman menghalalkan darahnya.4

Penolakan terhadap sastra juga terjadi akibat dari cara pandang terhadap karya sastra itu sendiri. Sebagai karya, ia adalah hasil perenungan dan dunianya bersifat khayalan. Ia tidak menggambarkan suatu kehidupan atau melaporkan berbagai masalah dan peristiwa berbeda dengan berita, sejarah dan penelitian. Namun demikian, karya bukan datang tiba-tiba tanpa sebab. Ia lahir dari kehidupan/fakta tapi ia bukan kehidupan melainkan fiksi/rekaan. Sapardi Djoko Damono menjelaskan bahwa dalam memandang karya sastra pembaca sering menganggapnya sebagai sebuah fakta atau kehidupan nyata. Konsekuensi pandangan ini adalah pembaca akan menghubungkan kandungannya dengan pengalaman dan keyakinan sendiri. Jika apa yang dikandungnya sesuai dengan pengalaman pembaca maka ia akan menganggapnya bagus dan menyukainya5. Sebaliknya jika pembaca tidak menyukainya atau kandungannya tidak sesuai dengan kebenaran yang diyakininya maka ia akan menolaknya.

Kecuali itu, sastra dalam pandangan sastrawan muslim juga dikelompokkan berdasarkan pesan sastra itu sendiri menjadi dua kelompok yakni kecenderungan tekstual dan kontekstual. Fadhlil Munawwar mengatakan bahwa mazhab pertama berpandangan bahwa sastra harus tekstual formalis dengan mengacu pada teks-teks suci yang berbicara tentang iman akhlak, ibadah untuk misi dakwah Islam. Sedangkan mazhab kedua berpandangan bahwa sastra harus kontekstual-substansial untuk tujuan kemanusiaan dan kebudayaan universal atau rahmatan lil-‘alamin.6

Menurut Taufik al-Hakim sebagaimana ditulis oleh Fadhlil Munawwar, bahwa sastra Islam adalah sastra yang memuat pesan kemanusiaan terutama ide dan pemikirannya -yang bersumber dari al-Qur’an, Hadith, sejarah Islam, Tafsir, teologi dan tasawuf serta hukum dan ritual- sebagai ciptaan Allah. Meski demikian Penolakan terhadap karya sastra tetap terjadi di kalangan umat muslim sendiri walau terhadap karya yang diakui sebagai karya seorang ilmuan muslim selama berabad-abad. Ini berarti bahwa jauh sebelum sastrawan kontemporer ditolak karyanya, para pendahulunya telah mendapat kecaman dan tuduhan yang tidak masuk akal. Jalaludin Rumi adalah satu dari diantara banyak sastrawan muslim yang dianggap murtad –sampai sekarang- karena puisinya tentang penyatuan dirinya dengan Tuhan dan puisi lainnya tentang cinta. Walaupun karyanya dipuji dan sudah banyak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa namun pembahasannya hanya sebatas nilai dan ajaran sufismenya. Berbagai tulisan, karya ilmiah yang mengaji tentang Jalaludin Rumi sampai saat ini masih terus terjadi tapi hanya terfokus pada ‘mencari-cari’ kesalahan dan menyesatkan ajaran sufinya. Puisi Rumi selain berisi tentang cintanya dengan sang kekasihnya -Allah- juga mengajarkan tentang sikap hidup yang toleransi terhadap sesama manusia tanpa batas agama dan kepercayaan.

Dalam kajian ini, Muhammad Yusuf el-Badri akan mengungkap Bagaimana Rumi memahami hubungan manusia dengan Tuhan? Apa yang disebut dengan agama perspektif Jalaludin Rumi? Dan wacana apa yang diinginkan oleh Rumi? Semua pertanyaan akan dijawab dengan menggunakan analisis hermeneutika terhadap puisi-rumi.Namun karena banyaknya puisi Jalaludin Rumi, maka penulis hanya akan mengungkap beberapa puisi yang terkait dengan pemikirannya tentang agama dan sikap hidup yang terdapat dalam Diwan Syams al-Din al-Tabriz.

Menurut Sofyan Hadi seorang sufi dalam mengungkap pengalaman spritualnya memilih media sastra yaitu puisi.7 Untuk memahami puisi sebagai sastra dibutuhkan ilmu sastra yang sering dinamakan dengan kritik sastra. Sebagai hasil kreatifitas, sastra -puisi- dapat ditafsirkan dengan pendekatan instrinsik dan ekstrinsik. Pendekatan instrinsik memposisikan puisi sebagai teks yang otonom dan ia tidak membutuhkan hal-hal yang berada diluar teks untuk memahami teks itu sendiri. Penafsiran teks digunakan untuk mengungkap tema, pesan dan dampaknya. Langkah penafsiran itu menurut Sapardi Djoko Damono disebut dengan pendekat hermeneutika. Hermeneutika berarti mengurai teks dengan pembacaan retroaktif (pembacaan ulang) setelah pembacaan heuristik (pembacaan berdasarkan struktur bahasa dan makna).

Menurut Acep Iwan istilah Hermeneutik sering dikaitkan dengan kisah mitologi Yunani yang bernama Hermes yang bertugas menyampaikan pesan Jupiter kepada manusia. Pengalih bahasaan ini dari dewa yang tidak dimengerti menjadi dapat dimengerti manusia disebut dengan penafsiran. Inilah awal hermeneutika disebut sebagai interpretasi atau penafsiran.8 Objek analisis hermeneutika adalah teks tertulis. Muhsin Mahfudz mengatakan bahwa teks pada dasarnya adalah simbol yang berdiri sendiri tanpa makna sehingga perlu dimaknai atau diberi makna. Pemaknaan lahir sebagai interpretasi tergantung pada pemberi makna dan konteks yang mendukungnya.9 Hermeneutika sendiri dalam tradisi Arab menurut Sukron Kamil sama dengan takwil. Pada perkembangan selanjutnya setelah Islam datang dengan al-Qur’an sebagai kitab suci pemaknaan ini juga dilakukan dengan cara yang sama. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Komaruddin Hidayat bahwa hermeneutika menurut Zygmunt Bauman adalah upaya menjelaskan dan menelusuri pesan dan pengertian dasar dari sebuah ucapan atau tulisan yang tidak jelas, kabur, remang-remang dan kontradiksi sehingga menimbulkan keraguan dan kebingungan pembaca11. Berbeda dengan Sukron Kamil, Muhsin berpendapat cara pemaknaan teks semacam itu dalam Islam adalah ilmu tafsir yang dikenal selama berabad-abad dalam tradisi keilmuan Islam.

Dari latar belakang di atas, kajian ini akan mengungkap lebih dalam bagaimana pandangan Jalaludin Rumi tentang agama-agama, bagaimana sikap seseorang muslim seharusnya dalam beragama.  [BERSAMBUNG]


  • Belajar Cinta dari Jalaludin Rumi (1): Siapapun yang Mencintai Tuhan, Muslim Sejati
  • Belajar Cinta dari Jalaludin Rumi (2): Antara Kesalahpahaman Pluralisme dan Radikalisme
  • Belajar Cinta dari Jalaludin Rumi (3): Puisinya Mencegah Perang?
  • Belajar Cinta dari Jalaludin Rumi (4): Jika Cinta Tuhan, Muslim atau Non-Muslim Tidak Penting Lagi


  • Previous Post Next Post